Rektor UAA Hamam Hadi Sebut Lonjakan Covid-19 Karena Longgarnya PSBB

Home / Berita / Rektor UAA Hamam Hadi Sebut Lonjakan Covid-19 Karena Longgarnya PSBB
Rektor UAA Hamam Hadi Sebut Lonjakan Covid-19 Karena Longgarnya PSBB Rektor UAA, Prof Dr H Hamam Hadi MS Sc D Sp GK. (FOTO: Dokumen UAA for TIMES Indonesia)
Fokus Berita

TIMESBANTUL, YOGYAKARTARektor UAA, Prof Dr H Hamam Hadi MS Sc D Sp GK mengatakan, lonjakan pasien positif Covid-19 di Indonesia tidak lepas dari penegakan hukum di wilayah yang sudah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Bersar).

Pemerintah Indonesia yang menyatakan tidak pernah melonggarkan PSBB dalam menghadapi pandemi Covid-19 bertolak belakang dengan fakta di lapangan. Buktinya, di tengah masyarakat ada pelonggaran bagi daerah yang sudah menerapkan PSBB.

“Jadi saya pastikan pemerintah saat ini denial terhadap kepastian pelonggaran PSBB, tidak bisa dipungkiri oleh siapapun saat ini,” tegas Rektor UAA, Prof Dr H Hamam Hadi MS Sc D Sp GK kepada TIMES Indonesia.

Hamam menerangkan, belakangan ini kasus Covid-19 belum mengalami penurunan. Bahkan semakin lama justru menunjukkan peningkatan kasus. Apabila, pemerintah tidak segera mengambil keputusan maka pemerintah Indonesia dipastikan gagal.

“Jika pemerintah gagal untuk menahan warga masyarakat untuk tidak berkerumun apalagi menjelang dan pasca perayaan Idul Fitri, saya bisa prediksi awal bulan Juni akan terjadi lonjakan cukup signifikan,” ungkap Hamam.

Hamam menerangkan, puncak kenaikan kasus Covid-19 ini karena beberapa hal. Paling utama adalah ketidakseriusan dan tidak tegas dari pemerintah serta tidak disiplinnya masyarakat dalam melihat kondisi ini.

Kemudian, pihaknya menerangkan bahwa masa inkubasi penyebaran Covid-19 tersebut berkisar antara lima hingga tujuh hari. Selama beberapa hari, masa inkubasi ini membuat orang pasca bepergian tidak langsung terpapar tetapi hanya tinggal menunggu.

“Hal ini sangat memprihatinkan, semakin banyak kerumunan akan semakin tinggi kasus penyebaran Covid-19. Bagi saya, efektivitas PSBB di Indonesia nilainya hanya 5 saja,” terangnya.

Sekali lagi, Hamam mengingatkan kepada pemerintah jika perayaan Idul Fitri tetap dilaksanakan di Masjid atau di lapangan serta jalinan silaturahmi tetap dijalankan, maka akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 antara lima hingga tujuh hari setelah itu.

“Saya sampaikan dengan tegas jika pemerintah gagal meyakinkan masyarakat Muslim untuk merayakan Idul Fitri di rumah, maka akan terjadi kenaikan kasus yang signifikan,” jelas Hamam.

Karena itu, Hamam berpendapat bahwa ada variabel yang tidak bisa dikendalikan yaitu inkonsistensi itu sendiri. Kebijakan inkonsisten inilah yang justru tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah saat ini sehingga menjadi variabel yang utama.

“Keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan lonjakan Covid-19 tergantung dari momentum dan pasca Idul Fitri, mengurangi intensitas warga berkerumun di pusat perbelanjaan, pasar, bandara dan sebagainya. Kalau PSBB kok masih longgar, ya tentu akan terjadi lonjakan pasien Covid-19,” jelas Rektor UAA, Prof Dr H Hamam Hadi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com