Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Sebut Efek Pandemi Covid-19 Picu Tingkat Kehamilan

Home / Berita / Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Sebut Efek Pandemi Covid-19 Picu Tingkat Kehamilan
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo Sebut Efek Pandemi Covid-19 Picu Tingkat Kehamilan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardyo. (FOTO: UNY for TIMES Indonesia)

TIMESBANTUL, YOGYAKARTA – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan efek pandemi Covid berupa work from home (WFH) disinyalir kuat memicu angka kehamilan.

“Intensitas hubungan suami istri lebih sering karena terus-menerus di rumah,” kata Hasto disela penerimaan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (1/8/2020).

Hasto menyatakan angka kehamilan semakin tinggi di kelompok masyarakat kelas bawah dengan pendidikan dan berpenghasilan rendah. Menurutnya, kondisi ini menjadikan angka kehamilan di Indonesia menjadi unik.

“Di Indonesia, siapa yang banyak hamil dan banyak anak adalah mereka yang dalam kesehariannya menderita. Penyebabnya, mereka tidak paham atau tidak memiliki pengetahuan tentang kehamilan," kata dia.

Secara nasional, selama tiga bulan awal pandemi yaitu pada Maret - Mei, angka penggunaan alat kontrasepsi turun. Sebanyak 10 persen dari penduduk pasangan nikah atau sekitar 36 juta tidak lagi menggunakan alat kontrasepsi.

Dari angka itu, kehamilan diperkirakan terjadi sebesar 15 persen. "Mungkin pada kisaran angka 400-500 ribu kehamilan baru," ujarnya.

Menurut Hasto, untuk memperlambat laju angka kehamilan di masa pandemi, BKKBN meluncurkan program 'Pelayanan KB Sejuta Akseptor' secara serentak pada 29 Juni. Program ini menyasar 20 pasangan di tiap desa di Indonesia. Dengan jumlah desa mencapai 70.400 desa, Hasto mengatakan saat ini program tersebut telah menyasar 1,4 juta akseptor dalam sehari pelayanan.

BKKBN juga sedang menggagas konsep pembelajaran mengenai reproduksi yang akan diterapkan ke remaja untuk mencegah kehamilan dini. Mengenai apa-apa saja yang bisa disampaikan ke remaja, baik dalam pendidikan formal maupun non-formal sedang digodok. Ini penting untuk menyelamatkan generasi di masa depan," jelas Hasto Wardoyo. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com